Mengatasi GTM dan Hipersensitivitas Oral pada Anak di BSD Tangerang: Dari Penolakan Makan hingga Mampu Mengonsumsi Menu Keluarga
Sebuah perjalanan terapi makan (feeding therapy) selama 24 bulan yang berhasil mengembalikan kenyamanan dan kemampuan makan si Kecil.
Ketika orang tua 'Tia' (nama samaran) menghubungi Naray Therapy, mereka merasa sangat khawatir. Di usia 9 bulan, Tia terus menunjukkan Gerakan Tutup Mulut (GTM) dan selalu mengemut makanannya selama 2 minggu terakhir.
Tia juga memiliki refleks muntah (gag reflex) yang kuat saat mencium aroma tertentu, serta belum mampu menghisap minuman secara mandiri. Apakah anak Anda menunjukkan tanda-tanda serupa?
Ringkasan
- Masalah Awal: Bayi usia 9 bulan mengalami GTM, sering mengemut makanan, belum mampu menghisap mandiri, serta terindikasi memiliki hipersensitivitas oral dan fasial (terdapat respons gagging terhadap aroma maupun tekstur tertentu).
- Layanan: Terapi Makan (Feeding Therapy).
- Durasi: 24 bulan (Juni 2024 – Juni 2026)
- Frekuensi: 1x / minggu
- Hasil: Anak terbebas dari perilaku GTM, telah mampu mengonsumsi berbagai menu keluarga (seperti nasi kuah dan lauk cincang kasar), mampu makan buah secara mandiri, dan mencapai berat badan ideal (15,8 kg).
- Lokasi: Rumah klien di BSD

Proses Asesmen & Diagnosa
Terapis dari Naray melakukan observasi menyeluruh serta wawancara dengan orang tua pada bulan Juni 2024. Hasil asesmen awal menemukan bahwa struktur anatomis mulut anak dalam kondisi baik, namun terdapat hambatan fungsi dan sensori:
- Hambatan Sensori: Tia memiliki kecenderungan hipersensitivitas fasial (kurang nyaman saat dilakukan facial massage) dan hipersensitivitas oral (menolak sikat oral). Anak juga menunjukkan gag reflex saat mencium aroma yang tajam seperti ikan asin atau air jeruk.
- Hambatan Motorik: Kekuatan otot bibir dan rahang anak belum optimal. Tia belum bisa menghisap dari gelas (training cup) secara mandiri, belum kuat mengunyah berkesinambungan, dan pembukaan rahangnya minim.
Program Terapi yang Dijalankan (IEP)
Kami menyusun Individual Education Plan (IEP) khusus untuk Feeding Therapy dengan frekuensi 1x per minggu:
- Fase Penyesuaian Sensori: Terapi dimulai dengan pemunduran tekstur makanan ke bubur saring agar anak merasa aman dan tidak trauma, sambil mempertahankan menu familiar tanpa terlalu sering dirotasi.
- Stimulasi Oral Motor: Fokus pada desensitisasi melalui facial massage, teknik tapping, dan penerapan sikat oral sebelum makan. Terapis juga melatih anak untuk menirukan gerakan oral dasar.
- Peningkatan Keterampilan Makan (Bulan-bulan Lanjutan): Terapis mulai melatih kemampuan menghisap dan kekuatan gigitan (munching) dengan bantuan alat (chewy tube), merangsang pergerakan lidah ke arah samping (lateralisasi), dan menerapkan food chaining untuk menaikkan tekstur dari potong kecil hingga ke menu keluarga.
Peran Orang Tua dan Caregiver (Home Program)
Keberhasilan program ini sangat dipengaruhi oleh dedikasi orang tua di rumah yang konsisten menerapkan Home Program:
- Rutinitas harian: Rutin melakukan sikat oral dan latihan sensorik di rongga mulut setiap sebelum waktu makan.
- Latih lateralisasi lidah: Memancing anak menjilat pemancing rasa (selai/yogurt) di sudut-sudut bibir.
- Latihan mengunyah: Memberikan latihan mengunyah terarah menuju area geraham menggunakan chewy tube, buah potong memanjang, atau makanan yang aman dan bertekstur lembut.
- Eksplorasi aroma: Mengekspos anak dengan berbagai macam aroma makanan sewaktu proses persiapan masak untuk menurunkan sensitivitasnya tanpa harus memaksa anak untuk memakannya.
Tantangan & Progres
Tantangan utama yang dihadapi adalah sensitivitas Tia yang tinggi pada potongan makanan berukuran besar serta aroma masakan tertentu, di mana anak masih bisa mengalami gagging atau muntah. Selain itu, kemampuan anak menggunakan geraham belakang secara konsisten membutuhkan proses pembiasaan yang cukup panjang. Meski demikian, seiring dengan exposure bertahap dan desensitisasi yang rutin, toleransi Tia perlahan terbangun. Perilaku penolakan makan (GTM) berhasil ditekan hingga tidak lagi muncul saat jam makan.
Hasil Akhir Setelah 24 Bulan
Pada evaluasi di bulan Juni 2026, Tia (kini 2 tahun 9 bulan) menunjukkan perkembangan yang sangat memuaskan:
- Penerimaan Tekstur: Sudah mampu makan nasi berkuah, ikan, telur urak-arik, dan aneka ragam buah potong secara mandiri.
- Kemandirian dan Nutrisi: Berat badan terjaga dengan sangat baik di angka 15,8 kg. Suasana waktu makan di rumah kini jauh lebih kondusif dan kooperatif.
- Kelulusan Program: Berdasarkan capaian yang konsisten, sesi feeding therapy dinyatakan sukses (berhenti), dan orang tua hanya perlu melanjutkan home program berupa pemantauan mandiri di rumah.
Apa Kata Orang Tua?
"Terima kasih banyak atas bantuan dan kesabarannya selama ini menghadapi Tia 🙏🏻🙏🏻, sekarang Tia sudah bisa makan nasi dan sudah tidak GTM lagi BB nya pun sudah sangat baik dan sudah gemoy."
Apakah anak Anda menunjukkan tanda-tanda serupa (GTM, makanan sering diemut, dan sangat pemilih (picky eater) karena tidak tahan tekstur tertentu)? Jangan menunggu 'nanti pasti membaik sendiri'. Intervensi dini adalah kunci. Konsultasikan kondisi anak Anda dengan ahlinya di Naray Therapy sekarang!
